Wednesday, November 19, 2014

Pengertian PDB dan PNB dalam Ekonomi

Pengertian PDB dan PNB


PRODUK DOMESTIC BRUTO DAN PRODUK NASIONAL BRUTO
Produk domestic bruto (PDB) adalah total produk yang dihasilkan oleh semua pihak yang berada dalam wialayah nasional suatu Negara, baik sebagai warga Negara atau bukan. Sedangkan  Produk Nasional Bruto (PNB) adalah total produk yang dihasilakan oleh penduduk suatu Negara, baik yang berdomisili di dalam negeri maupun luar negeri.

Pertumbuhan PNB (dan atau PDB), atau sering disebut dengan pertumbuhan ekonomi, memiliki pengaruh yang kuat terhadap dunia bisnis. Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi akan meningkatkan pendapatan masyarakat. Selanjutnya, pendapatan masyarakat yang meningkat akan mendorong daya belinya. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan meningkatkan peluang bisnis, meningkatkan penjualan, dan profit perusahaan. Sebliknya jika PNB rendah maka akan berdampak negative terhadap dunia bisnis.

TINGKAT PENGANGGURAN
Tingkat pengangguran merupakan fenomena ngara-negara dalam menjalankan pembangunan di segala bidang. Bisnis hanya merupakan salah satu cara dalam memecahkan persoalan dalam menjawab persoalan pengangguran, dunia kerja, dan lapangan pekerjaan. Untuk menghindari tingkat pengangguran yang sanat tinggi maka bisnis harus mampu menyesuaikan masalah-masalah yang terkait dengan daya beli masyarakat dan efisiensi bisnis, karena pengangguran merupakan disalokasi ekonomis yang merugikan masyarakat terutama bisnis.

Pertumbuhan ekonomi berkaitan erat dengan tingkat pengangguran. Dalam masa-masa resesi atau kesulitan ekonomi, tingkat pengangguran akan tinggi. Walaupun terdapat macam-macam jenis pengangguran, pada umumnya tingkat pengangguran yang tinggi akan berdampak negatif bagi dunia bisnis. Tingkat pengangguran yang tinggi akan meningkatkan ketergantungan, yaitu jumlah orang yang tidak berpenghasilan yang menggantungkan hidupnya pada orang yang berpenghasilan. Semakin tinggi tingkat pengangguran berarti semakin sedikit orang yang berpenghasilan. Hal ini menyebabkan daya beli masyarakat terhadap berbagai produk perusahaan menurun. Tingkat pengangguran dapat diatasi melalui program-program yang terpadu antara pendidikan dan menumbuhkan iklim bisnis (pendekatan kultural).

INFLASI
Inflasi adalah kecenderungan umum akan kenaikan harga-harga produk. Harga-harga produk dan perubahannya menggambarkan indeks harga konsumen. Semakin cepat harga meningkat, semkin tinggi harga konsumen. Semakin tinggi harga konsumen. Semakin tinggi indeks harga konsumen, semakin tinggi tingkat inflasi. Semakin tinggi tingkat inflasi, semakin menurun daya beli masyarakat. Dengan demikian, tingkat inflasi yang tinggi memiliki dampak negatif terhadap dunia bisnis


Tuesday, November 18, 2014

Subsidi Listrik Diperkirakan Turun Hingga Akhir 2014

Subsidi Listrik Diperkirakan Turun Hingga Akhir 2014

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Skema penghapusan subsidi listrik dengan penyesuaian tarif tenaga listrik (TTL) tahun 2014 untuk sejumlah golongan sudah berjalan sesuai rencana. Terakhir, kenaikan TTL untuk enam golongan dilakukan pada 1 November 2014.

Skema penghapusan subsidi listrik untuk tahun 2014 ini mampu menghemat pengeluaran sebesar Rp 8,51 triliun dari besaran subsidi listrik yang dianggarkan tahun 2014. Anggaran subsidi tahun 2014 ini sesuai APBN-P adalah Rp103,81 triliun dengan rincian, subsidi berjalan Rp85,75 triliun, luncuran subsidi 2014 ke tahun 2015 sebanyak Rp.3,73 triliun dan kekurangan pembayaran subsidi 2013 sesuai audit BPKsebesar Rp 21,79 triliun.

Hasil penghematan subsidi ini akan digunakan oleh pemerintah untuk membiayai pembangunan infrastruktur khususnya jaringan listrik ke desa-desa di tengah pertumbuhan konsumsi listrik yang telah mencapai 10 persen.

“Infrastruktur listrik ini sangat penting karena setiap 1 persen pertumbuhan tentu dibutuhkan sekitar 1,5 persen pertumbuhan suplai listrik,” ujar Andri Riswandi, Head of Consultant Indepth Research Consulting, saat dihubungi wartawan pada Selasa (18/11/2014).

Pernyataan Andri diamini oleh Pande Radja Silalahi, ekonom CSIS. Ia menegaskan bahwa dengan penyesuaian TTL melalui penerapan tarif listrik non subsidi pada 2013 dan 2014, maka subsidi listrik di penghujung 2014 diperkirakan akan turun menjadi Rp85,75 triliun.

Sebelumnya, subsidi listrik selalu meningkat setiap tahunnya. Misalnya pada 2011 jumlah subsidi listrik sebesar Rp93,18 trilun, tahun 2012 naik menjadi sebesar Rp103,33 triliun, dan tahun 2013 sebesar Rp101,21 triliun. “Mudah-mudahan akhir tahun 2014, bisa turun sesuai target,” jelas Pande.

Pande memberi catatan khusus bahwa penghapusan subsidi listrik ini harus tetap berorientasi pada penghematan PLN melalui price policy yang kompetitif. Hal lainnya, juga harus memperhatikan suara-suara dari kalangan industri yang mengeluarkan biaya untuk kebutuhan listrik yang tidak sedikit.

Sumber: http://u.msn.com/id-id/berita/other/subsidi-listrik-diperkirakan-turun-hingga-akhir-2014/ar-BBepi6M


Bisnis

BISNIS

Bisnis menurut ekonomi adalah sebuah organisasi yang menjual barang atau jasa kepada konsumen dan untuk mencari sebuah laba. Kata bisnis berasal dari bahasa inggris yaitu business, terdiri dari kata dasar busy yang berarti "sibuk" dalam konteks individu, komunitas, ataupun masyarakat. Dalam artian, sibuk mengerjakan aktivitas dan pekerjaan yang mendatangkan keuntungan. Namun tidak semua bisnis mengejar keuntungan seperti ini, misalnya bisnis koperatif yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan semua anggotanya atau institusi pemerintah yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Model bisnis seperti ini kontras dengan sistem sosialistik, dimana bisnis besar kebanyakan dimiliki oleh pemerintah, masyarakat umum, atau serikat pekerja.

Bentuk dasar kepemilikan bisnis     

Perusahaan perseorangan adalah bisnis yang kepemilikannya dipegang oleh satu orang. Pemilik perusahaan perseorangan memiliki tanggung jawab tak terbatas atas harta perusahaan. Artinya, apabila bisnis mengalami kerugian, pemilik lah yang harus menanggung seluruh kerugian itu.
Persekutuan adalah bentuk bisnis dimana dua orang atau lebih bekerja sama mengoperasikan perusahaan untuk mendapatkan profit. Sama seperti perusahaan perseorangan, setiap sekutu (anggota persekutuan) memiliki tanggung jawab tak terbatas atas harta perusahaan. Persekutuan dapat dikelompokkan menjadi persekutuan komanditer dan firma.
Perseroan adalah bisnis yang kepemilikannya dipegang oleh beberapa orang dan diawasi oleh dewan direktur Setiap pemilik memiliki tanggung jawab yang terbatas atas harta perusahaan. 
Koperasi adalah bisnis yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan. Koperasi bertujuan untuk menyejahterakan anggotanya. Karateristik utama koperasi yang membedakan dengan badan usaha lain adalah anggota koperasi memiliki identitas ganda. Identitas ganda maksudnya anggota koperasi merupakan pemilik sekaligus pengguna jasa koperasi.

Tujuan bisnis
·         Profit (keuntungan)
·         Growth (pertumbuhan)
·         Continuity (berkesinambungan)
·         Stability (stabilitas)
·         Public service (pelayanan umum)
·         Will fare (sejahtera)

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Bisnis



Untuk Tekan Inflasi, Pemerintah Harus Kontrol Harga Beras

Untuk Tekan Inflasi, Pemerintah Harus Kontrol Harga Beras

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengamat ekonom, Aviliani, mengatakan permasalahan utama yang membuat inflasi meningkat yaitu persoalan harga pangan. Sebab, sebagian besar berasal dari beras.

"Kalau saja pemerintah bisa mengatasi beras, itu sudah bisa mengatasi inflasi sebesar 25 persen," kata Aviliani, Selasa (18/11/2014).

Menurut dia, bahan makanan dan minuman di luar beras menyumbang ke inflasi sebesar 40 persen. Dengan demikian, dari ketiga elemen tersebut saja sudah dapat mendorong inflasi sebesar 60 persen. "Jadi kalau ditanya kapan inflasi bagus, itu apabila pemerintah bisa mengontrol makanan, minuman, dan beras," ucapnya.

Dalam mengontrol ketiga elemen tersebut, kata Aviliani, pemerintah perlu memperbaiki sistemnya. Seperti, waktu dulu para petani diberikan telepon genggam untuk memberitahukan harga bawang dan cabai melalui radio, sehingga masyarakat bisa mengetahui harga yang sebenarnya.

"Dulu kita dengar itu di radio kan, kalau sekarang kita enggak tahu harga berapa di toko sebelahnya," ucapnya.

Aviliani pun menceritakan, angka inflasi pasca Idul Fitri kemarin tidak terlalu tinggi, karena pemerintah mengancam pedagang agar tidak menjual harga beras tidak mahal. Kalau harga mahal, maka pemerintah akan menjual beras dengan harga murah.

"Tapi kan itu bukan sistem, pemerintah kayak preman kalau begitu. Tapi itu berhasil tekan inflasi," ujar Aviliani.


Sumber : http://u.msn.com/id-id/berita/other/pengamat-untuk-tekan-inflasi-pemerintah-harus-kontrol-harga-beras/ar-BBepVSD

Wednesday, November 12, 2014

PT. ARGO PANTES Tbk












Sejarah Singkat Perusahaan
          PT Argo Pantes Tbk. (Perseroan) didirikan berdasarkan akta No. 30 tanggal 12 Juli 1977 dari Darwani Sidi Bakaroedin, S.H., pada waktu itu notaris di Jakarta. Anggaran dasar perusahaan telah mengalami bebrapa kali perubahan, terakhir dirubah dengan akta No. 65 tanggal 11 April 2003 dari Aulia Taufani, S.H., notaris pengganti dari Sutjipto, S.H., notaris di Jakarta mengenai perubahan pasal 11, 12, 14 dan 15. Akta perubahan ini telah diterima dan dicatat oleh Direktorat Jenderal Hukum dan Perundang-undangan tanggal 29 Desember 2003 No. C-30159 HT.01.04.Th. 2003. Pada tanggal 27 November 1990, Perusahaan memperoleh pernyataan efektif dari Ketua Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) dengan suratnya No. SI-136/SHM/MK. 10/1990 untuk melakukan penawaran umum atas 15.882.000 saham Perusahaan kepada masyarakat. Pada tanggal 7 Januari 1991, saham tersebut telah dicatatkan pada Bursa Efek Jakarta dan Surabaya.
            Pada tahun 1991, berdasarkan persetujuan Bapepam No. S-04/PM/1991 tertanggal 3 Januari 1991 Perusahaan melakukan penambahan pencatatan saham di Bursa Efek di Jakarta dan Surabaya sebanyak 8.000.000 saham yang berasal dari saham yang dimiliki PT Dharma Manunggal.
            Pada tahun 2007, berdasarkan persetujuan BEJ No. S-049/BEJ-PSR/05-2007, tanggal 30 Mei 2007 dan persetujuan BES No. JKT-006/LIST-EMITEN/BES/VI/2007 tanggal 8 Juni 2007, Perusahaan melakukan penambahan pencatatan saham di BEJ dan BES yang timbul dari Pelaksanaan Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu sehingga saham Perusahaan yang tercatat menjadi 335.557.450 saham. Seluruh saham Perusahaan yang telah dikeluarkan dan disetor penuh sejumlah 335.557.450 saham telah dicatat pada BEJ dan BES.
            Efektif sejak tanggal 30 November 2007 BES bergabung dengan BEJ dan kemudian BEJ berubah nama menjadi PT Bursa Efek Indonesia. Oleh karena itu sejak tanggal 1 Desember 2007 saham Perusahaan yang telah di keluarkan dan disetor penuh sejumlah 335.557.450 saham tercatat di PT Bursa Efek Indonesia.
Visi dan Misi Perusahaan
          Visi PT Argo Pantes Tbk adalah: “Menjadi produsen tekstil terpadu dan terkemuka di Indonesia yang menghasilkan produk berkualitas, ramah lingkungan dan berorientasi pada kepuasan pelanggan.
            Sedangkan misi dari PT Argo Pantes Tbk adalah sebagai berikut:
a.      Mempertahankan kepemimpinan di bidang industri pertekstilan.
b.      Meningkatkan efisiensi dan produktivitas dengan menerapkan prinsip “Best Practice”.
c.       Menyediakan produk dan pelayanan yang terbaik bagi para pelanggan.
d.      Memaksimalkan pengembalian nilai investasi para stakeholder.
e.      Meningkatkan Tata Kelola Perusahaan yang Baik ( Good Corporate Governance).
f.        Berperan aktif bagi pertumbuhan ekonomi Nasional.
                                                          


Kegiatan Proses Produksi
            Sesuai dengan pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan usaha Perseroan meliputi bidang manufaktur produk tekstil. Perseroan berdomisili di Jakarta, sedangkan pabriknya berlokasi di Tangerang, Banten dan Bekasi, Jawa Barat. Kantor Pusat Perseroan beralamat di Wisma Argo Manunggal, Lantai 14, Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 22, Jakarta.
            Perseroan mulai berproduksi secara komersial pada tahun 1977. Proses Produksi yang dilakukan Perseroan dilakukan per unit secara terpadu yang dilakukan Tangerang yaitu:
·         Unit Pemintalan Benang/ Spinning
 Perseroan menggunakan bahan baku benang yaitu kapas yang diimpor dari  Amerika Serikat,  Australia, beberapa negara di Asia dan Afrika. Sementara bahan  baku fiber / polyster diperoleh dari  salah satu Perusahaan Argo Manunggal Group.  Kedua bahan tersebut menghasilkan benang tenun  100% cotton atau benang  campuran cotton dan polyster (benang grey)
·         Unit Pertenunan
  Merupakan salah satu proses yang mengolah benang grey menjadi kain.
·         Unit Yarn Dyeing
  Unit ini dioperasikan untuk memproses benang grey menjadi benang berwarna  yang siap untuk      ditenun dan dirajut.
·         Unit Pencelupan Penyempurnaan/ Dyeing Finishing
  Bagian ini merupakan bagian akhir dari proses pembuatan kain jadi. Proses                                           penyempurnaan spesifik yang diinginkan pelanggan akan diproses di unit ini,                                       seperti solid, peach, water, repellant dan lain-lain.